Jumat, 26 Oktober 2012

Aku dan Organisasi di Kampusku

Perkembangan jaman yang cukup menglobal seperti saat ini, membuat setiap manusia untuk mempersiapkan dirinya sejak jauh-jauh hari untuk menjadi seseorang yang tangguh di tengah kehidupan dunia. Begitu juga pada dunia mahasiswa yang penuh kreatifitas, kebebasan berpikir dan tidak mengenal salah di antara sesama mahasiswa. Hal ini memang menjadi mahasiswa merupakan masa orientasi menuju kehidupan nyata alias mau terjun ke masyarakat. Maka dari itu, namanya mahasiswa boleh dikatakan punya kesempatan untuk melakukan kesalahan untuk mendapatkan pembelajaran dan pencarian identitas dirinya. ok Saya pribadi yang awalnya buta tentang realita kehidupan masyarakat, sedikit tahu ketika menyandang status mahasiswa seperti hari ini. Apakah mungkin kita jauh dengan orang tua sehingga jelas segala aktivitas disiapakn secara individunya sendiri. Ini hanya menurut hemat saya saja, barangkali pemikiran selain saya juga beda mengenai kondisi nyata hidup bermasyarakat. Mungkin juga pasa SD sampai SMA saya tidak pernah ikut komunitas apapun yang lingkupnya cukup besar. hehehe

Kampus perjuangan surabaya lah yang membuka jalan kehidupan baru saya tepatnya di kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Awal masuk perkuliahan sudah diberi kegiatan orientasi mahasiswa baru (ospek) yang begitu unik aktivitasnya. Baru pertama merasakan ospek sebenarnya seperti yang di sampaikan senior-senior atau berita media massa atau elektronik. Tetapi hal inilah yang membuat sadar pikiran saya tentang sebuah kehidupan yang majemuk, manusia yang heterogen dan perbedaan karakter manusia. Beruntung orang tua memberikan modal tentang perbedaan apapun di dunia itu tidak bisa diabaiakan, harus dicari pemahaman dan kebaikan untuk urusan dunia ini. Jadi ospek yang jalankan di kampus ini membuat mindset dan perubahan pemikiran saya menuju lebih baik. Banyak hikmah dan nilai-nilai yang didapatkan untuk menjadi seseorang yang siap bertempur di tengah masyarakat. Terima kasih mas-mas dan mbak-mbak yang memberikan ilmu sosialnya, yang buruk dibuang dan yang baik tetap dipertahankan, namanya manusia khususnya mahasiswa pasti melakukan kesalahan.

Mbak nia, kakak perempuan saya pernah menulis tentang diri saya di catatannya yang intinya menyebutkan bahwa adikku berubah dari kehidupan sebelum kuliah. Apa ya yang berubah, padahal ya wajar-wajar saja seperti ini?Setelah menjalani kuliah satu tahun, saya mengikuti 3 lembaga mahasiwa di kampus. Dengan semangat mahasiswa ITS, banyak kenalan mahasiswa lintas jurusan. Bahkan tahu hampir seluruh letak & posisi jurusan seluruh ITS akibat kegiatan kemahasiswaan ini. Pulang ke kos malam-malam dan energi yang digunakan untuk belajar sedikit berkurang. Kemungkinan inilah yang mengakibatkan IP turun dalam 3 semester dalam kesalahan dalam membagi waktu. Semoga hal ini tidak terulang dalam pengalaman teman-teman karena orang tua pasti agak kecewa ketika keinginan mereka akan anaknya belajar dengan baik tidak sesuai kenyataan. Tetapi keputusan tetap yang menjalankan aktivitasnya, karena potensi dan bakat tetap pada kontrol individu masing-masing.

Mengikuti kegiatan kemahasiswaan ITS ternyata cukup memberikan gambaran kehidupan komunitas-komunitas yang ada di lingkungan ITS. Ada yang suka sekedar ikut kegiatan, ada yang idealisme kenceng, ada yang menjadi mahasiswa suka belajar saja dan banyak yang lain yang pasti semuanya memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing. Dalam sebuah lembaga yang saya temui di sini, terdapat suatu kelompok yang sudah terbentuk dahulu sebelum menjalankan lembaga mereka, adapun yang masih awam seperti saya yang rasa ingin tahunya cukup tinggi dan ada pula sekedar memeriahkan suasana. Memang kalau yang tidak paham dengan tentang berbagai macam kelompok tidak bisa membedakan. Tetapi saya suka dengan banyaknya kelompok ini yang masuk lembaga sama dan memikirkan bersama untuk kemajuan mahasiswa secara umum.

Pada waktu saya memegang peranan agak penting di lembaga jurusan, saya mulai merasakan perbedaan pandangan pada waktu pengambilan keputusan. Memang saya yakin bahwa rekan-rekan seperjuangan di lembaga ini memiliki pemikiran yang berbeda. Padahal dari awal, secara pribadi konsiten tidak ada pemikiran jelek terhadap sekitar saya, tetapi pada perjalanannya ini, kalau dasarnya sudah berbeda pemikiran tetap saja susah dalam membawa kemajuan bersama. Apa yang membuat orang berbeda idealisme susah untuk duduk bersama untuk memecahkan masalah? Insyaallah dalam pengalaman saya melakukan kegiatan tidak pernah membedakan siapapun. Barangkali kalau pernah terjadi benturan pemikiran, itu hanya pemikiran saya saja. Bagi saya, semuanya bisa berilmu dimanapun, berkarya apapun sesuai potensi dan bakat dimiliki tetapi rasa curiga diantara sesama harus dihapuskan. Indonesia merdeka saja karena mempersatukan perbedaan yang ada. Kalau sejak mahasiswa sudah ditimbulkan kecurigaan diantara kita, bagaimana nanti sudah menjadi orang di tengah masyarakat. Semangat Buat rekan-rekan Keluarga Mahasiswa ITS yang bekerja keras untuk memajukan almamaternya, bangsanya dan seluruh dunia. Jaya kampusku Jaya Indonesiaku.

1 komentar:

  1. Mahasiswa, makhluk yang seharusnya mempunyai idealisme tinggi,
    salut pada bang norman

    BalasHapus