Nurman
Firdaus, Yoyok Setyo Hadiwidodo dan Hasan Ikhwani
Jurusan Teknik Kelautan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 E-mail: firdaus.norman.oe@gmail.com
Jurusan Teknik Kelautan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 E-mail: firdaus.norman.oe@gmail.com
Abstrak— Bentangan bebas
yang diakibatkan oleh scouring dasar
laut atau bathimetri tidak merata, dapat menimbulkan karakteristik panjang dan
kedalaman (gap) span segmen pipa yang berbeda-beda. Faktor lingkungan yang
mempengaruhi secara signifikan terhadap
bentangan bebas pipa bawah laut adalah beban hidrodinamis akibat gelombang dan
arus Selain itu, bentangan bebas juga dipengaruhi oleh faktor jenis tipe tanah
yang menumpu struktur pipa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh
panjang bentangan bebas pipa terhadap panjang span efektif, defleksi dan frekuensi natural yang ditimbulkan. Jumlah bentangan yang dianalisa dalam
studi ini sebanyak 17 bentangan bebas. Panjang span aktual ini hasil seleksi dari panjang span maksimum yang diijinkan. Perhitungan parameter kekakuan tanah
menggunakan variasi koefisien jenis tipe tanah liat very soft, soft, firm dan stiff. Hasil secara umum, panjang span aktual berbanding lurus dengan panjang span efektif dan defleksi. Perbedaan panjang span aktual tidak
terlalu signifikan mempengaruhi nilai frekuensi natural arah getaran crossflow.
Berbeda frekuensi natural arah
getaran inline, berbanding lurus
dengan panjang tiap bentangannya.
Kata Kunci—Bentangan Bebas, Defleksi Span. Frekuensi Natural, Panjang Span efektif,
pipeline.
I.
PENDAHULUAN
Pipa bawah laut merupakan
teknologi transportasi yang digunakan untuk mengangkut produk hidrokarbon
seperti crude oil, gas alam bertekanan tinggi, dan condensate yang realatif rendah. Fluida yang dibawa subsea pipeline dalam jumlah besar dan
jarak yang jauh, serta dilewatkan melalui jalur dasar laut laut atau lepas
pantai. Pipa bawah laut dapat bekerja selama 24 jam sehari, 365 hari dalam
setahun atau selama umur pipa yang bisa mencapai 30 tahun atau bahkan lebih.[1]
Karena mahalnya konstruksi subsea
pipeline, maka perlunya desain dan analisis yang baik agar konstruksi
tersebut dapat diinstalasi dan beroperasi dengan baik sesuai tujuannya.
Jalur subsea pipeline yang sudah terpasang di seabed akan memiliki beberapa permasalahan geo-hazards dan faktor
lingkungan yang berdampak pada kerusakan pipa. Salah satu dampak yang bisa
menimbulkan kerusakan yaitu terjadinya defleksi pada pipa yang diakibatkan oleh
adanya bentangan bebas pipa di seabed. Free span yang terjadi akan menimbulkan gerakan osilasi pipa,
sehingga menyebabkan kegagalan struktur pipa pada saat tertentu, jika frekuensi
vortex shedding yang terjadi melebihi
frekuensi natural pipa.[2]
Free
span pada pipeline dapat terjadi ketika kehilangan sambungan antara pipeline dan dasar laut, hingga memiliki
jarak tertentu.[3] Panjang span aktul
yang terjadi di lapangan seharusnya tidak melebihi panjang span yang diijinkan. Aliran gelombang dan arus disekitar pipa
silinder yang terbentang akan menghasilkan gerakan vortices (turbulent flow).
Gerakan vortices di atas dan bawah
pipa menghasilkan gaya getaran pada bentangan pipa tersebut. Getaran ini yang
menyebabkan timbulnya frekuensi vortex
shedding. Sehingga, pipa bawah laut akan mengalami kegagalan jika frekuensi
natual pipa beresonansi dengan
frekuensi vortex. Kegagalan ini akan
mempengaruhi retakan pada concrete
coating.
Permasalahan bentangan yang terdapat
di dasar laut memiliki karakteristik yang cukup komplek. Faktor lingkungan
seperti kondisi arus, gelombang, tanah ikut berkontribusi pada kegagalan free span pipa bawah laut. Faktor tersebut akan mempengaruhi stabilitas pipa selama beroperasi.
Beberapa panjang bentangan bebas segmen pipa bawah laut yang terjadi di
lapangan dapat mempengaruhi batas aman struktur dari panjang span yang diijinkan. Untuk itu akan
dikaji sejauh mana beberapa panjang bentangan bebas yang diijinkan terhadap
panjang span efektif, defleksi dan
frekuensi natural yang ditimbulkan.
II.
URAIAN
PENELITIAN
A.
Pengumpulan Data
Data yang digunakan untuk analisa
studi ini yaitu menggunakan data pipa dan data lingkungan dari Chevron
Indonesia Company Kalimantan Operations.[4] Data pipa meliputi data
desain pipa dan data properties pipa
yang sesuai dengan tipe materialnya. Sedangkan data lingkungan meliputi data
arus, data gelombang serta data tanah. Kode
standar yang digunakan dalam analisa menggunakan kode DNV RP F-105 tahun 2006.
B. Bentangan Bebas Subsea Pipeline
Free span merupakan suatu kondisi dimana jalur
pipa terdapat suatu bentangan (gap)
dengan dasar laut (seabed) yang
nantinya memiliki potensi bahaya baik terhadap pipa tersebut maupun kondisi
instalasi bawah laut yang mendukungnya. Free
span pada pipa bawah laut terjadi ketika kontak antara pipa dan seabed hilang dan memiliki jarak pada
permukaan seabed.[2] Ancaman dan
bahaya yang disebabkan oleh free span
diantaranya terganggunya stabilitas jalur pipa yang nantinya menimbulkan pipa
mengalami stress dan terjadi bending. Analisa free span akan menghasilkan panjang bentangan yang diijinkan, agar
tegangan pipa yang mengalami free span
tidak melebihi tegangan yield
material pipa.
Aliran
dari gelombang dan arus yang timbul di sekitar pipa, akan memunculkan pusaran
yang menghasilkan distribusi tekanan. Pusaran ini menghasilkan osilasi/getaran
pada pipa. Jika frekuensi dari pusaran ini mendekati frekuensi natural pipa, maka terjadi resonansi,
dan inilah yang menyebabkan kelelahan pada pipa.[3] Berikut illustrasi pipa
yang mengalami bentangan bebas,[5]
Gambar. 1. Ilustrasi Bentangan Bebas pada Subsea Pipeline
C. Validasi Teori Gelombang
Teori
gelombang menurut literatur [6], bahwa teori gelombang yang akan digunakan
dalam perancangan dapat ditentukan dengan menggunakan formulasi matematika dari
teori gelombang linier sebagai berikut:
Hasil dari formulasi matematika dapat
disesuaikan dengan grafik daerah aplikasi teori gelombang “Regions of
Validity of Wave Theories”, sehingga dapat diketahui teori gelombang yang
akan digunakan berdasarkan data lingkungan. Berikut grafik penentuan teori gelombang,[7]
Gambar. 2. Grafik Region of Suitability of Wave Theories
D.Perhitungan Kecepatan
Gelombang dan Arus
Sesudah mendapatkan teori
gelombang yang sesuai dengan kondisi gelombang di sekitar pipeline, maka dapat dilakukan
perhitungan kecepatan partikel gelombang dan arus. Pada sepanjang jalur
pipeline ini memiliki karakteristik kondisi lingkungan yang sama Berikut ini
perhitungan kecepatan partikel air horizontal dan percepatan horizontal,[8]
Dimana :
d = kedalaman air laut
H = tinggi gelombang
T = periode gelombang
L = panjang gelombang
Uo = kecepatan
partikel gelombang
s =
jarak vertikal titik yang ditinjau dari dasar laut
Sedangkan perhitungan kecepatan arus dapat
menggunakan persamaan di bawah ini,[9]
Dimana
:
D =
diameter total pipa
Zo = parameter kekasaran seabed
Zr = ketinggian di arus di atas seabed
Ur = kecepatan
arus saat ketinggian dari dasar laut
Setelah itu mencari kecepatan
efektif gelombang dan arus yang mengenai struktur pipa yang terbentang.
Perhitungannya menggunakan persamaan sebagai berikut,[6]
Ue = 0,778 UO2 (Dtot/Yo)0.286
(5)
Dimana :
Uo =
kecepatan arus/gelombang mula-mula
Dtot = diameter total pipa
Yo = ketinggian kecepatan yang ditinjau
E. Massa Pipa Efektif
Massa pipa yang
digunakan dalam analisa studi ini yaitu, menggunakan massa pipa efektif. Massa
pipa efektif menjumlahkan semua lapisan pipa serta massa tambah air yang
dipindahkan. Persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung massa pipa efektif adalah [6]
Meff = Mac + Mc
+ Mst + Mf + Madd (6)
Dimana :
Mac = massa pipa lapisan coating
Mcc =
massa pipa concrete
Mst =
massa pipa baja
Mf =
massa fluida
Madd =
massa pipa baja
Meff = massa
efektif pipa
F. Perhitungan Panjang Span Efektif
Bentangan bebas yang dianalisa merupakan panjang span aktual yang sudah terjadi di
lapangan. Bentangan bebas pipa memiliki karakteristik panjang bentangan dan
kedalaman bentangan (gap). Perhitungan panjang span efektif dari tiap panjang span
aktual menggunakan code DNV RP
F105, berikut persamaannya,[10]
Sedangkan untuk nilai b diperoleh dari persamaan yang
ada di bawah ini,
Dimana :
K = kekakuan tanah
vertikal atau lateral
CSF = concrete stiffness factor
Ls = panjang bentangan bebas (span aktual)
Leff = panjang span efektif
b =
parameter Relative stiffness
Pada
perhitungan panjang span efektif,
faktor yang berpengaruh yaitu parameter kekakuan tanah. Pada studi ini jenis
tanah yang terdapat pada pipeline
yang mengalami bentangan yaitu jenis tanah liat. Berikut tabel di bawah ini
beberapa koefisien kekakuan tanah jenis tanah liat,
Tipe clay
|
CV (kN/m5/2)
|
CL (kN/m5/2)
|
CV,S (kN/m/m)
|
Very soft
|
600
|
500
|
50-100
|
Soft
|
1400
|
1200
|
160-260
|
Firm
|
3000
|
2600
|
500-800
|
Stiff
|
4500
|
3900
|
1000-1600
|
Very stiff
|
11000
|
9500
|
2000-3000
|
Hard
|
12000
|
10500
|
2600-4200
|
Sumber : DNV RP F-105, 2006
G. Perhitungan Defleksi Bentangan Bebas
Bentangan bebas yang terjadi di lapangan akan mengakibatkan lendutan di tengah
struktur pipa bawah laut yang terbentang. Perkiraan defleksi yang terjadi pada free span dapat menggunakan persamaan di
bawah ini,
Dimana :
C6 = konstata ujung span
Pcr = euler buckling
load
Seff = gaya aksial pada pipa
q =
beban pipa
Epipa = modulus elastisitas pipa baja
Ipipa = momen inersia pipa
b
=
defleksi
H.Perhitungan Frekuensi Natural
Free Span
Analisa berikutnya yaitu untuk mengetahui frekuensi natural tiap bentangan bebas. Parameter
frekuensi natural sangat penting
untuk dianalisa, karena frekuensi natural
dapat beresonansi dengan frekuensi vortex
shedding. Resonansi dapat menimbulkan kegagalan struktur pipa, jika nilai
frekuensi natural struktur lebih
kecil dari frekuensi vortex shedding. Berikut
ini persamaan yang digunakan dalam menentukan frekuensi natural bentangan,
Dimana :
C1, C3 = konstata ujung span
fn = frekuensi natural bentangan
Dtot =
diameter total pipa
III. METODE
Berdasarkan
studi yang telah dilakukan, pipa yang digunakan untuk penelitian yaitu jaringan
pipa bawah laut Chevron Indonesia Company
dan berlokasi di selat makasar. Secara umum langkah perhitungan studi ini dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Melakukan
perhitungan kecepatan partikel air akibat gelombang, berdasarkan teori
gelombang pada Gambar 2 yang sesuai dengan data gelombang.
2. Menghitung
kecepatan arus yang terjadi pada ketinggian diameter dari dasar laut.
3. Menghitung
kecepatan partikel air efektif dan kecepatan arus efektif yang mengenai pipa.
4. Menghitung
massa efektif pipa bawah laut.
5. Menghitung
parameter kekakuan tanah dinamis pada lokasi pipeline yang mengalami bentangan. Besarnya parameter kekakuan
tanah arah vertikal atau lateral dapat dicari menggunakan persamaan (12).
Perhitungan specified massa rasio pada persamaan (12) dapat
ditentukan dengan persamaan dibawah ini,
dengan:
KL/V =
parameter kekakuan tanah arah vertikal atau lateral
CL/V =
koefisien kekakuan tanah arah vertikal atau lateral
Mratio =
specified massa rasio
Mstruktur =
massa pipa struktur
Mbouy =
massa buoyancy pipa
6. Menghitung
parameter relative stiffness sesuai
dengan arah getaran inline dan crossflow.
7. Dari
perhitungan point 6 dapat dihitung
panjang span efektif dengan arah
getaran inline dan crossflow.
8. Menghitung
euler buckling load dan gaya aksial
pada pipa bawah laut dengan menggunakan persamaan di bawah ini,
dengan:
C2 =
konstata ujung span
Heff = tegangan sisa lay
Dpi = internal pressure difference
As =
luasan permukaan pipa baja
DT = perbedaan temperatur
ae = temperature
expansion coefficient
9. Dari
perhitungan point 8 dapat ditentukan nilai defleksi
arah inline dan crossflow yang terjadi bentangan bebas yang terdapat pipa bawah
laut.
10.Menghitung
frekuensi natural arah inline dan crossflow pipa bawah laut yang mengalami bentangan bebas.
Pada perhitungan di atas dimaksudkan untuk
memperoleh pengaruh tiap panjang bentangan bebas yang terjadi terhadap nilai
panjang span efektif, defleksi dan
frekuensi natural, semua perhitungan
dilakukan pengulangan dengan menggunakan variasi jenis tanah liat very soft, soft, firm dan stiff.
IV. HASIL DAN DISKUSI
Hasil-hasil yang disajikan studi ini dalam bentuk grafik hubungan
panjang bentangan bebas dengan panjang span
efektif, hubungan panjang bentangan dengan defleksi dan hubungan panjang bentangan
bebas dengan frekuensi natural pipa.
Adapun hasil semua perhitungan disajikan dalam bentuk grafik seperti pada
Gambar 3, 4, 5, 6, 7, dan 8.
Gambar.
3. Hubungan Panjang Span Aktual
dengan Panjang Span Efektif Arah
Getaran Inline
Gambar.4.
Hubungan Panjang Span Aktual dengan
Panjang Span Efektif Arah Getaran Crossflow
Pada Gambar 3 dan 4 dengan menggunakan variasi koefisien kekakuan
tanah jenis tipe tanah liat. Untuk nilai koefisien kekakuan tanah baik arah
getaran inline maupun crossflow semakin besar, maka nilai
panjang span efektifnya semakin
kecil. Panjang span efektif arah inline lebih besar dari pada panjang span efektif arah crossflow.
Dengan demikian, panjang span efektif terpanjang terjadi pada tanah liat jenis very soft dan terpendek pada jenis stiff. Pada tiap panjang bentangan
bebas, semakin panjang bentangan maka semakin besar nilai panjang span efektif. Dengan variasi jenis tipe
tanah liat, semua grafik menunjukkan trend
yang sama.
Gambar. 5. Hubungan
Panjang Span Aktual dengan Defleksi
Arah Getaran Inline
Gambar. 6. Hubungan
Panjang Span Aktual dengan Defleksi
Arah Getaran Crossflow
Untuk nilai defleksi dari tiap jeni tipe
tanah maka nilai terbesarnya terdapat pada jenis tanah liat tipe very soft. Hal ini dipengaruhi oleh
panjang span efektif. Dari grafik
tersebut dapat dilihat, semakin besar panjang bentangan bebas yang terjadi maka
semakin besar defleksi yang ditimbulkan.
Semua variasi tipe tanah liat menujukkan bentuk yang sama.
Gambar 4 dan 5 menunjukkan nilai defleksi yang
berbeda, defleksi pada arah getaran inline
lebih kecil dari pada arah getaran crossflow.
Perbedaan ini diakibatkan oleh beban yang diterima pipa dari masing-masing arah
getaran. Jadi, pengaruh panjang bentangan sangat signifikan terhadap defleksi
yang ditimbulkan.
Gambar.
7. Hubungan Panjang Span Aktual
dengan Frekuensi Natural Arah Getaran
Inline
Gambar. 8.
Hubungan Panjang Span Aktual dengan
Frekuensi Natural Arah Getaran Crossflow
Pada
Gambar 7 dan 8 menunjukkan bentuk grafik yang cukup berbeda, maka dari itu
kondisi frekuensi natural untuk arah
getaran inline berbeda dengan arah getaran
crossflow pada kondisi bentangan yang
semakin panjang. Untuk arah inline,
semakin besar panjang bentangan maka semakin kecil nilai frekuensi natural. Pada arah ini bentuk grafik
semua jenis tipe tanah liat memiliki trend
yang sama. Frekuensi natural semakin
kecil jika nilai kekakuan tanah semakin kecil.
Untuk arah getaran crossflow, nilai frekuensi natural mulai turun dari panjang
bentangan 19.29 m sampai 32.98 m. Dan frekuensi mulai naik ketika panjang
bentangan 33.47 m sampai 45.43 m. frekuensi natural
dipengaruhi oleh keseimbangan nilai panjang span
efektif dan defleksi bentangan. Hubungan variasi jenis tipe tanah liat dengan
semakin panjang bentangannya tidak konstan. Tipe stiff memiliki nilai terbesar dengan rentang panjang bentangan
19.29 m sampai 28.42 m. Dan tipe ini menjadi nilai terkecil mulai panjang
bentangan 34.69 sampai 45.43 m. Jadi
untuk arah getaran crossflow, semakin
panjang bentangan tidak terlalu berpengaruh signifikan.
V. KESIMPULAN/RINGKASAN
Dari studi ini dapat disimpulkan bahwa panjang bentangan bebas
semakin besar mempengaruhi panjang span efektif
dan defleksi yang ditimbulkan. Selain itu, jenis tipe tanah liat juga ikut
mempengaruhi nilai panjang span
efektif dan defleksi bentangan bebas pipa. Frekuensi natural bentangan bebas arah getaran inline masih dipengaruhi oleh panjang tiap bentangannya. Tetapi
frekuensi natural arah getaran crossflow tidak terlalu dipengaruhi oleh
bentangan bebas.
Kedalaman dasar laut dan tekanan yang diterima oleh pipa bawah
laut dianggap konstan. Padahal kondisi kedalaman mempengaruhi faktor
hidrodinamis pada pipa, sedangkan tekanan yang diterima pipa di lapangan sangat
fluktuatif.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih
kepada Bapak Yoyok Setyo H. dan Bapak Hasan Ikhwani selaku dosen Pembimbing yang telah banyak member
arahan dan membantu dalam pengerjaan
studi ini. Kemudian
karyawan Chevron Indonesia Company yang telah memberikan informasi kasus studi Serta tidak terlepas dari bantuan
serta dorongan moral maupun material dari banyak pihak baik secara langsung
maupun tidak langsung.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
Soegiono. 2007. Pipa Bawah Laut.
Airlangga Univertsity Press. Surabaya.
[2] Guo, B. 2005. Offshore Pipeline. Elsevier. New York.
[3]
Bay, Y. 2003. Pipelines And
Risers. Elsevier. New
York.
[4]
Chevron Indoensia
Company. 2013. Data Kerja Praktek.
Kerja Praktek. Balikpapan
[5]
Xu, T., Lauridsen, B., Bay, Y.
1999. ”Wave Induced Fatigue of Multi
Span Pipelines”. Marine Structures.
Vol. 12, hal. 84-106
[6] Mousselli, A. H. 1981. Offshore Pipeline Design, Analysis, and Methods.
Penn Well book. Oklahoma
[7] Le Mehaute, B. 1976. An Introduction to Hydrodynamics and Water
Waves, Springer-Verlag.
New York.
[8] Chakrabarti, S.K. 1987. Hydrodynamics
of Offshore Structures. Computional Mechanics Publication. London.
[9]
Det Norske Veritas
Recommended Practices F109. 2010. Recommended
Practices for On-Bottom Stability Design of Submarine Pipelines. Det Norske
Veritas, Norway.
[10]
Det Norske Veritas
Recommended Practices F105. 2006. Recommended
Practices for Free Spanning Pipelines. Det Norske Veritas, Norway
Tidak ada komentar:
Posting Komentar