Nurman Firdaus1, Yoyok Setyo
Hadiwidodo2 dan Hasan Ikhwani2
1 Mahasiswa Jurusan Teknik Kelautan
FTK-ITS, Surabaya
2 Staf Pengajar Jurusan Teknik
Kelautan FTK-ITS, Surabaya
ABSTRACT
Free span of subsea pipeline caused by loss of contact between the pipe
segments of seabed. Free span of the
pipeline will lead
to buckling or failure in the subsea pipeline structure. In this study,
free
span
analyzed
for
17 spans. This span is
still below the limit of maximum span length. Stress is taken into account in this study hoop stress, longitudinal stress,
and von mises
stress. Stress
calculations
using internal pressure
variation due to different
pressures to determine
the effect. stress is calculated based on the
standard code ASME B31.4, 2002. The results of this study, variation
spans effect significant for the longitudinal stress
and von mises
stress. For hoop stress is not affected by
the long free of span. Stresses imposed by the pipe, also
contributed in generating stress-free span of pipeline.
Keywords—Free Span, Pipeline, Stress
Korespondensi
(Correspondence) : Nurman Firdaus, Jurusan Teknik Kelautan Fakultas Teknologi
Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nompember (ITS) Surabaya, Kampus ITS
Sukolilo, Surabaya 60111. E-mail : firdaus.norman.oe@gmail.com
PENDAHULUAN
Teknologi pendistribusian minyak
dan gas semakin banyak dikembangkan di Indonesia, karena keperluan bahan bakar
bagi masyarakat Indonesia semakin tinggi permintaannya. Ketergantungan manusia
terhadap produk-produk migas yang tidak dapat dihentikan menyebabkan semakin
intensifnya usaha pencarian dan eksplorasi migas di daerah lepas pantai dan
laut dalam. Untuk memenuhi hal ini diperlukan adanya eksplorasi dan eksploitasi
cadangan minyak dan gas bumi dalam jumlah besar. Maka dari itu, salah satu
sistem transporatasi yang efektif untuk mendistribusikan minyak dan gas dari
sumur dasar laut ke subsea platform
ataupun ke penyimpanan minyak yang terdapat di darat adalah subsea pipeline.
Free
span pada pipa
bawah laut terjadi ketika kontak antara pipa dan seabed hilang dan memiliki jarak pada permukaan seabed (Guo, 2005). Free span atau bentangan bebas ini bisa terjadi akibat tidak
meratanya bathimetri, scouring dasar
laut atau crossing antar pipa. Segmen pipa yang mengalami bentangan akan
kehilangan tumpuan dari tanah dan menyebabkan buckling. Selain itu, gaya-gaya yang ditimbulkan bentangan bebas pipa dapat membahayakan kegiatan
operasi pipa bawah laut.
Ancaman dan bahaya yang disebabkan oleh free span diantaranya terganggunya
stabilitas jalur pipa yang nantinya menimbulkan pipa mengalami stress dan terjadi bending (Bay, 2003). Tegangan yang berlebihan pada bentangan bebas
pipa dapat membentuk struktur pipa menjadi ovalisasi. Tegangan pada pipa dapat
terjadi diantaranya: pemberian tekanan internal pipa, gaya akibat tekanan
hidrostatis, gaya gelombang, arus dan lain-lain. Semua tegangan yang terjadi dalam pipa harus
memenuhi kriteria tegangan yang diijinkan.
Permasalahan bentangan bebas pipa yang terjadi di
lapangan perlu dianalisa. Secara umum, ada 3 macam analisa
kondisi pada free span yang
berdasarkan adanya kasus pembebanan pada pipa yakni kondisi instalasi, kondisi hydrotest serta kondisi operasi. Pada
setiap kondisi akan dianalisa free span
akibat adanya beban statis sehingga
dapat diketahui panjang span yang
diijinkan. Kemudian untuk kondisi pipa yang mengalami beban dinamis, juga akan
menentukan panjang span yang
diijinkan dengan tujuan agar frekuensi natural
bentangan bebas tidak sama dengan frekuensi beban yang mengenai free span.
Dari paragraf di atas menguatkan perlunya studi
terkait permasalahan bentangan bebas pipa yang terjadi di dasar laut. Untuk itu
akan dikaji pengaruh panjang bentangan bebas terhadap tegangan yang
ditimbulkan. Tegangan yang ditimbulkan meliputi hoop stress, longitudinal
stress dan von mises stress.
METODE PENELITIAN
Data yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu data pipa dari Perusahaan Chevron
Indonesia Company Kalimantan Operations. Data ini meliputi data desain pipa dan
data properties pipa yang sesuai dengan tipe materialnya. Kemudian data operasi
pipa juga diperlukan dalam menunjukkan pemberian pembebanan tekanan internal
pipa. Kode standar yang
digunakan dalam analisa menggunakan kode ASME B31.4, 2002.
Untuk mengetahui
kondisi batas kelayakan operasi pada suatu sistem pipa bawah laut diperlukan
analisa tegangan pipa. Beban yang
bekerja pada pipa bawah laut (offshore
pipeline) akan menyebabkan timbulnya tegangan di dinding pipa. Kombinasi
tegangan-tegangan yang bekerja pada dinding pipa menyebabkan regangan atau
defleksi. Besarnya tegangan akibat beban operasi tekanan internal fluida pipa.
Sesuai dengan kode standar (ASME B31.4,
2002), maka terdapat batasan-batasan besarnya tegangan kerja yang diijinkan
pada sistem pipa, baik pada saat instalasi maupun pada saat beroperasi.
Berdasarkan kode ini, tegangan kerja
yang diijinkan pada sistem pipa penyalur minyak adalah :
Tabel 1 Batasan
Tegangan Ijin pada Desain Pipa
Design Condition
|
Allowable
|
||
Hoop stress
|
Longitudinal stress
|
Combined stress
|
|
Operation
|
72 %
SMYS
|
80 %
SMYS
|
90 %
SMYS
|
Hydrotesting
|
90 %
SMYS
|
-
|
96 %
SMYS
|
Installation
|
72 %
SMYS
|
80 %
SMYS
|
90 %
SMYS
|
Sumber : ASME B 31.4, 2002
Massa pipa yang digunakan dalam analisa
studi ini yaitu, menggunakan massa pipa efektif. Massa pipa efektif
menjumlahkan semua lapisan pipa serta massa tambah air yang dipindahkan.
Persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung massa pipa efektif (Mousselli, 1981) adalah
Meff = Mac + Mcc +
Mst + Mf + Madd (1)
Dimana :
Mac = massa pipa lapisan coating
Mcc =
massa pipa concrete
Mst =
massa pipa baja
Mf =
massa fluida
Madd =
massa pipa baja
Meff =
massa efektif pipa
Tekanan yang terdapat pada pipa ada 2 macam yaitu
tekanan ekternal dan internal pipa. Tekanan internal pipa terjadi akibat
tekanan operasional pipa. Sedangkan tekanan ekternal pipa berasal dari tekanan
hidrostatis kedalaman laut. Berikut
persamaan yang digunakan dalam menentukan tekanan ekstenal pipa :
Pe = psw x g x h (2)
dengan,
Pe =
tekanan eksternal
psw = massa jenis air laut
g = gaya
gravitasi bumi
h =
kedalaman air laut pada pipeline
Hopp stress merupakan tegangan yang diakibakan oleh tekanan internal
fluida yang mengalir di dalam pipa.
Tegangan ini bekerja pada pipa dalam arah tangensial
atau circumferential. Tekanan internal
berguna untuk menahan tekanan yang berasal dari luar pipa. Untuk menentukan hoop stress pada pipa bawah laut, dapat
ditemukan dengan menggunakan persamaan berikut ini (ASME B31.4, 2002):
dimana
:
𝜎ℎ = tegangan hoop
Pi = tekanan internal
Dtot = diameter total pipa
ttot = tebal total pipa
Gambar 1 Tegangan Hoop pada Potongan
Pipa (Guo, 2005)
Longitudinal stress merupakan
tegangan aksial yang dialami oleh dinding pipa. Maka dari itu, Longitudinal stress dipengaruhi dua
tegangan yang terjadi pada pipa yaitu tegangan axial dan tegangan bending.
Tegangan bending ini terjadi akibat
pipa mengalami bentangan bebas dan menimbulkan momen, sehingga pipa diasumsikan
mengalami 2 tumpuan dari masing-masing ujung pipa sepanjang span. Berikut ini persamaan yang
digunakan dalam menghitung Longitudinal
stress pada bentangan bebas pipa (ASME B31.4, 2002) :
dengan
:
𝜎L = tegangan longitudinal
𝜎axl = tegangan aksial
𝜎bending = tegangan bending
Tegangan
aksial yang terjadi pada bentangan bebas dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Faktor tersebut berasal dari gaya sisa dari instalasi, gaya akibat suhu, gaya
akibat tekanan, tegangan poisson dari
material pipa. Tegangan aksial memiliki pengaruh yang besar terhadap defleksi
yang terjadi pada pipa. Sedangkan tegangan bending
diakibatkan oleh momen yang terjadi pada struktur bentangan bebas karena beban
struktur sendiri dan luar. Berikut ini persamaan umum tegangan axial dan tegangan bending yang terjadi pada bentangan bebas (ASME B31.4, 2002):
dimana :
a = Coefficient of
thermal expansion
T2 = Temperatur operasi
T1 = Temperatur saat instalasi
n = Poisson’s ratio
Mi = Bending
moment in plane
ii = Stress
intensification factor in plane
io = Stress
intensification factor out plane
Z = Section
modulus pipa
Sedangkan untuk mencari parameter section modulus pipa dan momen bending,
dapat ditentukan dengan persmaan di bawah ini, (Popov, 1996)
dimana :
z = section modulus pipa
M = momen
bending
Itot = momen inersia total pipa
Wtot = berat total yang diterima pipa
L =
panjang bentangan bebas
Gambar
2 Tegangan Longitudinal pada Silinder
Bebas (Guo, 2005)
Setelah
mendapatkan persamaan hoop stress dan
longitudinal stress pada pipa, maka
bisa menentukan besarnya von mises stress
dengan cara (Guo, 2005) :
dengan
:
𝜎v = tegangan von mises
𝜎L = tegangan longitudinal
𝜎h = tegangan hoop
Dalam
studi ini tidak memperhitungkan tegangan torsionalnya
. Kebanyakan kasus pada pipa yang
beroperasi tidak terjadi torsi
. Dalam perhitungan konservativ,
perkalian tegangan hoop dan longitudinal dalam persamaan von mises stress diabaikan.
Metode
Mengacu pada studi yang telah dilakukan
sebelumnya, studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data
bentangan bebas Chevron Indonesia Company.
Secara garis besar langkah perhitungan sebagai berikut :
1. Melakukan perhitungan massa efektif pipa bawah laut
dan properti pipa seperti diameter total pipa.
2. Menghitung tekanan eksternal akibat tekanan
hidrostatis pipa sesuai dengan kedalaman perairan lokasi pipeline.
3. Menghitung tegangan hoop pada bentangan pipeline sesuai
dengan variasi tekanan yang diberikan.
4. Menghitung tegangan aksial dan bending pada tiap bentangan bebas pipa yang dianalisa serta sesuai
dengan variasi tekanan.
5.Setelah mendapatkan parameter pada point 4, maka menghitung tegangan longitudinal pada tiap bentangan bebas
pipa.
6. Menghitung tegangan von mises atau kombinasi yang terjadi pada tiap bentangan bebas
pipa.
Langkah perhitungan di atas, bertujuan
untuk mendapatkan hasil pengaruh tiap panjang bentangan bebas pipa terhadap
tegangan yang terjadi pada segmen pipa bawah laut yang mengalami free span. Variasi tekanan yang
diberikan pada struktur pipa ada 3 kondisi yaitu Pi1 = 1 Mpa, Pi2
= operating pressure = 3.098 Mpa, dan Pi3 = maximum allowable operating pressure =
7.573 Mpa.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil-hasil yang
disajikan studi ini dalam bentuk grafik hubungan panjang bentangan bebas dengan
tegangan hoop, tegangan longitudinal dan tegangan von mises. adapun hasil semua
perhitungan disajikan dalam bentuk grafik seperti pada Gambar 3, 4, dan 5.
Gambar 3 Hubungan Panjang Span
Aktual dengan Tegangan Hoop
Pada grafik di atas menunjukkan, tegangan hoop pada tiap bentangan bebas dengan
kondisi tekanan yang sama menimbulkan harga tegangan yang sama juga. Jika
bentangan bebas diberi tekanan semakin besar, maka tegangan hoop yang timbul semakin besar juga.
Sehingga pengaruh panjang dan pendeknya bentangan tidak berpengaruh pada
tegangan hoop.
Gambar 4
Hubungan Panjang Span Aktual dengan
Tegangan Longitudinal
Dari Gambar 4 dapat disimpulkan bahwa
tegangan longitudinal tiap bentangan
bebas pipa meningkat jika panjang bentangan bebas semakin besar. Grafik di atas
menunjukkan tren yang sama untuk tiap tekanan. Selain itu, jika tekanan yang
diterima pipa semakin besar, maka tegangan longitudinal
yang terjadi juga semakin besar. Panjang bentangan bebas berpengaruh signifikan
dalam menimbulkan tegangan longitudinal free
span.
Gambar 5 Hubungan Panjang Span
Aktual dengan Tegangan Von Mises
Pada tegangan von
mises menunjukkan kesamaan kondisi dengan tegangan longitudinal. Jadi semakin panjang bentangan bebas pipa, maka
semakin besar tegangan kombinasi yang dihasilkan. Demikian pula, semakin besar
tekanan yang diberikan pada pipa maka semakin besar tegangannya.
KESIMPULAN
Dari hasil studi ini dapat disimpulkan bahwa panjang
bentangan bebas pipa semakin besar
mempengaruhi secara signifikan terhadap tegangan longitudinal dan von mises.
Kemudian untuk tegangan hoop tidak
berpengaruh pada besaran bentangan bebas pipa yang terjadi, kecuali pemberian
tekanan semakin besar.
Pada perhitungan studi ini setiap bentangan
diasumsikan menerima beban yang sama, padahal kondisi lapangan dari ujung inlet dan outlet pipa bawah laut memiliki kondisi tekanan yang berbeda.
Kemudian kedalaman laut sepanjang pipeline
pasti berbeda-beda sehingga perlu dipertimbangkan lagi. Serta tegangan yang
dihitung dalam studi ini masih mempertimbangkan tekanan internal dan berat
struktur pipa sendiri. Bebas dinamis dari lingkungan belum dipertimbangkan
dalam menghitung tegangan free span di
dalam studi ini.
DAFTAR
PUSTAKA
American Society of Mechanical
Engneers. 2002. ASME B31.4: Pipeline
Transportation System for Liquid
Hydrocarbons and Other Liquid. The American Society of Mechanical
Engineers, USA.
Bay, Y. 2003. Pipelines And Risers. Elsevier. New
York.
Chevron Indoensia Company. 2013. Data Kerja Praktek. Kerja Praktek. Balikpapan
Guo, B. 2005. Offshore Pipeline. Elsevier. New York
Mousselli, A. H. 1981. Offshore
Pipeline Design, Analysis, and Methods. Penn Well book. Oklahoma
Popov,
E.P. 1996. Mekanika Teknik. Penerbit
Erlangga. Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar